makalah daulah dinasti abbasiyah kedua

Daulah dinasti abbasiyyah kedua
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
“sejarah peradaban islam

Dosen Pengampu :
Umar Faruq M.Fill



Kelas B

Hamirudin            932505715
M.mahyail aza     932506215



PROGRAM STUDI PENDDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2018-2019


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kekhalifahan Abbasiyah atau Bani adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dunia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib, oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750M dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama tiga abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabiyyah dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258M  disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

B. rumusan Masalah
  1. Apa pengertian metode qawa’id dan tarjamah?
  2. Bagaimana konsep dasar metode metode qawa’id dan tarjamah?
  3. Apa kelebihan dan kekurangan metode qawa’id dan tarjamah?
  4. Bagaimana aplikasi metode qawa’id dan tarjamah dalam proses pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Qawaid Dan Tarjamah
Metode Gramatika danTerjemah adalah sebuah metode pembelajaran bahasa arab yang dalam prosesnya mengajarkan kaidah-kaidah tatabahasa dan kosakata untuk memahami teks berbahasa arab.  [1]dalam aplikasi nya metode ini menggunakan bahasa peserta didik sebagai bahasa pengantar.
Metode ini merupakan cara mempelajari bahasa asing  yang  lebih menekankan pada qawaid ataupun kaidah-kaidah bahasa untuk dapat mencapai sebagian dari empatketerampilan bahasa, yaitu membaca, menulis dan menterjemah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa metode terjemah merupakan sebuah metode untuk dapat menerjemahkan dari bahasa sumber atau bahasa ibu ke dalam bahasa sasaran atau bahasa penerima yang tidak bisa lepas dari penerapan aturan-aturan tata bahasanya. Metode yang satu ini menfokuskan pada kegiatan penerjemahan bacaan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu atau sebaliknya.
Sedangkan metode qawaid merupakan metode yang lebih menekankan pada penghafalan aturan-aturan gramatika dan sejumlah mufradat atau kata tertentu yang kemudian dirangkaikan menurut tata bahasa yang berlaku. Metode ini merupakan metode tertua dalam pembelajaran bahasa Asing sehingga disebut juga metode tradisional.
Metode gramatika dan terjemah ini merupakan hasil karya dari pemikiran beberapa orang sarjana Jerman. Mereka adalah Johan Seidenstucker, Karl Plotz, H.S. Ollendorff, dan Johann Meidinger. Pada pertengahan abad ke-19, Ploetz Di Jerman  mengadopsi buku teks bahasa prancis karya saidenstruker untuk dipakai di sekolah sekolah, dengan demikian metode grammer dan translition ini menjadi metode utama untuk mengajarkan dasar-dasar tata bahasa. Metodeinijugamenjadimetodeterbanyak yang tersebar di Negara Indonesia danpondok-pondokpesantren.[2]
Dari sini, kita bisa memahami bahas asejarah munculny a metode gramatikal dan terjemah ini dilatarbelakangi oleh sebuah kebutuhan untuk memahami teks-teks bahasa lain yang banyak mengandung nilai sastra dan buku-buku ilmiah behasa arab, sehingga menuntut orang-orang pada saat itu untuk memahami kaidah tatabahasa dan kosa kata bahasa arab itu.
B.     Konsep Dasar  Metode Qawaid Dan Tarjamah
Menurut pendapat orang-orang yang mendukung metode ini bahwa belajar bahasa itu mengembangkan kemampuan otak dan mengasahnya agar bisa berfikir dengan logis, mengasah memori otak, dan melatih untuk menyelesaikan beberapa permasalahan.[3]
Asumsi yang mendasari metode qawa’id dan tarjamah ini adalah suatu logika semesta (al-mathiq al-alami) atau disebut juga universal logic yang menyebutkan bahwa semua bahasa pada dasarnya sama dan qawa’id atau tata bahasa merupakan cabang dari logika[4]. Untuk dapat melihat titik kesamaan bahasa itu perlu untuk dilakukan kajian terhadap tata bahasa asing yang dipelajari. Dan untuk dapat melihat pokok pikiran yang terkandung dalam tulisan bahasa asing yang dipelajari tersebut, perlu untuk diadakan kegiatan transformasi atau penerjemahan kosa kata serta kalimat dalam bahasa peserta didik sehari-hari. Jadi inti kegiatan belajar bahasa asing dengan metode qawa’id dan tarjamah adalah menganalisa tata bahasa dan menulis kalimat serta menghapalkan kosakatanya sebagai dasar transformasi kedalam bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dapat kita fahami bahwa ada dua aspek yang sangat penting dalam metode qawa’id dan tarjamah ini, yaitu kemampuan menguasai kaidah tata bahasa dan kemampuan untuk menerjemahkan. Dua kemampuan ini merupakan modal dasar untuk dapat menstranfer ide ataupun pikiran ke dalam tulisan dalam bahasa asing dan juga merupakan modal dasar untuk dapat memahami ide yang terkandung dalam tulisan bahasa asing tersebut.
Dari konsep dasar tersebut dapat kita ketahui bahwa ada beberapa karakteristik metode qawa’id dan tarjamah, yaitu :
  1. Adanya kegiatan disiplin mental dan pengembangan intelektual di dalam belajar bahasa dengan banyaknya penghafalan dan memahami berbagai fakta.
  2. Ada penekanan lebih pada kegiatan membaca, mengarang dan juga terjemah. Sedangkan kegiatan seperti menyimak dan berbicara kurang diperhatikan.
  3. Kosakata yang selektif, khususnya berdasarkan pada teks-teks bacaan yang dipakai. Kosakata ini diberikan melalui daftar-daftar dwibahasa studi kampus dan juga penghafalan.
  4. Unit yang paling mendasar adalah kalimat, perhatian lebih banyak dicurahkan pada kalimat, sebab para pelajar peserta didik lebih banyak mencurahkan waktunya dalam aktivitas penerjemahan dalam kalimat-kalimat terpisah.
  5. Tata bahasa diajarkan secara deduktif, yaitu dengan cara penyajian kaidah-kaidah bahasa. Kemudian dilatih lewat berbagai latihan terjemahan.
  6. Bahasa peserta didik sehari-hari atau bahasa ibu digunakan sebagai bahasa pengantar.
D. Kelebihan Dan Kekurangan Metode Qawaid Dan Tarjamah
Setiap metode pembelajaran tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu para pakar pendidikan tak pernah berhenti berinovasi untuk mengembangkan berbagai metode guna meminimalisir berbagai kelemahan atau kekurangan tersebut,  metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangannya:
1. Kelebihan Metode Qawaid dan Tarjamah
  1. Tanpadisadaripesertadidikmemperolehpengetahuandarikeduanya (qowaiddantarjamah) denganpengetahuanyangutuh.[5]
  2. Peserta didik dapat mengusai dalam artian arti hafal di luar kepala berbagai kaidah bahasa target.
  3. Peserta didik dapat memahami secara detil dari bacaan yang dipelajarinya dan dapat menerjemahkannya.
  4. Para peserta dapat menghafal kosa kata dalam jumlah yang cukup banyak dalam setiap pertemuan.
  5. Metode ini tidak menuntut para peserta didik untuk aktif dalam berbahasa Arab.
  6. Cocok bagi semua tingkatan peserta didik baik yang peserta didik pemula, menengah atau pesrta didik tingkat atas. Melalui ini peserta didik dapat memperoleh aspek-aspek bahasa yang signifikan dengan bantuan buku saja.[6]
  7. Dapat membantu pesrta didik untuk bisa menulis teks berbahasa arab dengan cara latihan menerjemahkan teks daribahasa mereka kedalam bahasa arab.
  8. Memberikan kemampuan sensifitas sastra pada peserta didik, baik untuk sastra yang tertulis ataupun yang didengarkan, karena sarana satu-satunya yang digunakan dalam pembelajaran bahasa arab adalah menerjemahkan teks dari satu bahasa kebahasa yang lain[7].
  9. Metode ini sangat efektif digunakan oleh guru untuk mengajar kemampuan membaca, menerjemah, menulis kepada para pesrta didik.
  10. Dari segi efisiensi waktu, metode ini sangat efisien digunakan karena pembelajaran bahasa arab yang menggunakan metode ini dapat mengajarkan banyak materi pembelajaran baasa arab dalam waktu yang singkat, sehingga waktu belajar yang pertemuannya terbatas dan mteri balajar yang banyak dapat teratasi dengan metode ini.
2. Kekurangan Metode Qawaid Dan Tarjamah
Pengajaran dengan metode qawa’id dan tarjamah inidigunakan hanyadapat membimbing  peserta didik terampil  untuk berbahasa  secara pasif  dan  tidak  aktif.
Maka dapat kita ketahui kelemahan dari metode ini sebagai berikut:
  1. Dibutuhkan seorang pendidik yang terlatih dan mahir dalam penerjemahan
  2. Metode qawa’id dan tarjamah banyak mengajarkan peserta didik tentang  bahasanya  bukan kemahiran  dalam berbahasa
  3. Peserta didik hanya  mempelajarai  satu  ragam  bahasa saja.
  4. Para pesertadidik menghafalkan kaidah bahasa  yang  disajikan  dengan cara  perskriftif.
  5. Analisis tatabahasa pada metode qawa’id dan tarjamah ini mungkin baik  dan mudah bagi  mereka yang merancangnya, tapi tidak menutup kemungkinan bisa membingungkan peserta didik karena cukup rumit.
  6. Lebih banyak mementingkan pengajaran ilmu tentang bahasa arab, bukan bahasa sendiri.
  7. Beban yang di hadpai oleh seorang guru rinan sekali sehingga ia tidak dituntut untuk menemukan kegiata pembelajaran yang kreatif.
  8. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran bahasa arab mudah dan terbatas, karena kebanyakan pertanyakan yang diberikan kepada peserta didik hanya berkisar pada kaidah saja, atau menerjemahkan teks-teks bahasa arab kedalam bahasa Indonesia. Peseta didik tidak diminta untuk menggunakan daya imajinasinya dan menerjemahkan hal-hal baru yang belum diberikan oleh guru.
  9. Kelas yang menggunaka metode ini dalam proses belajarnya menjadikan peserta didik pasif dalam menggunakan bahasa arab untuk berkomunikasi karena bahasa arab tidak digunakan sebagai bahasa pengatar dalam pembelajarannya.
  10. Metode ini lebih banyak mengajarkan bahasa arab sebagai ilmu, bukan mempelajari bahasa sebagai skill untuk berkomunikasi.[8]
Dengan kita memahami kelebihan dan kekurangan penggunaan metode gramatika an terjemah, kita bisa mengambil sisi positifnya untuk kita gunakan saat kita mengajar skill membaca dan menulis yang merupakan bagian dari empat skill yang harus dikuasai dan diajarkan saat kta mengajar bahasa arab kepada peserta didik.



E. Aplikasi Metode Qawaid Dan Tarjamah
Untuk dapat mengaplikasikan metode qawa’id dan tarjamah ini dalam pembelajaran bahasa asing, terutama Bahasa Arab, kita bisa mengacu pada konsep dasar metode ini sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya agar tidak keluar dari karakteristik metode qawa’id dan tarjamah.[9] Cotoh penerapan metode yang mungkin dilakukan oleh guru bahasaarabadalahsebagaiberikut:
A.    Langkah- langkah metode gramatika dan terjemah:
  1. Guru memberikan mufradat baru dan kemudian menjelaskan maknanya kedalam bahasa penerima sebagai persiapan materi pengajaran.
  2. Selanjutnya Guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara nyaring, terutama bagian yang biasanya para peserta didik melakukan kesalahan atau mendapat kesulitan, dan tugas pendidik adalah membrikan koreksinya.
3.      Aktifitas membaca teks ini diteruskan sehingga seluruh peserta didik mendapatkan giliran.
  1. Setelah itu, peserta yang dianggap paling menguasai diminta untuk menterjemahkan, kemudian peserta didik diarahkan pada pemahaman struktur gramatika atau kaidah-kaidah
B.     Contoh materi gramatika dan terjemah.
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)  
سورة الفاتحة سميت هذه السورة بالفاتحة; لأنه يفتتح بها القرآن العظيم, وتسمى المثاني; لأنها تقرأ في كل ركعة, ولها أسماء أخر. أبتدئ قراءة القرآن باسم الله مستعينا به, â «!$# á علم على الرب -تبارك وتعالى- المعبود بحق دون سواه, وهو أخص أسماء الله تعالى, ولا يسمى به غيره سبحانه. â ÇuH÷q§9$# á ذي الرحمة العامة الذي وسعت رحمته جميع الخلق, â ÉÏm§9$# á بالمؤمنين, وهما اسمان من أسمائه تعالى، يتضمنان إثبات صفة الرحمة لله تعالى كما يليق بجلاله.
F. Evaluasi Pembelajaran Metode Qowaid dan Tarjamah
Evaluasi pembelajaran yang menerapakan metode qowaid dan tarjamah bisa menggunakan tes tatabahasa dan kosakata untuk di terjemah, dengan cara menggunakan soal-soal yang berkaitan dengan qowaid dan tarjamah. Tes tatabahasa dalam bahasa arab lebih memfokuskan pada tes pembentukan kata (sharf) dan tes pembentukan kalimat (nahwu). Tes pembentukan kata dapat berupa pemahaman dapat pula berupa penggunaannya, yakni bagaimana teste dapat mentashrif kata dan dapat menggunakannya dalam kalimat.
1.فبما يلي من افعل الظن؟
أ. ظن,راى,جعل             ب. حسب,علم,ظن              ج. جعل,ظن,حسب
Sebagaimana  tes tatabahasa, tes kosa kata atau tarjamah juga dapat di kelompokan menjadi dua, yakni tes pemahaman dan tes penggunaan. Tes pemahaman lebih ditekankan pada pengukuran kemampuan teste dalam memahami arti kosakata, sedangkan tes penggunaan lebih dititikberatkan pada kemampuan menggunakan kosa kata dalam kalimat. Khusus untuk tes pemahaman kosa kata, indikator kompetensi yang diukur dapat berupa arti kosa kata, atau padanan kata, pengertian kata, dan kelompok kata,[10]
1.تلقى حسن وأصدقاؤه خطابامن يونس. مامعنى "خطابا"؟
a. uang          b.wesel         c.paket           d.surat
2. ............... الناس الملابس الصوفية في فصل الشتاء
أ.  يلبس                               ب.  يستعمل
ج.  يستخدم                            د.  يجعل
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
                Setelah kita mempelajari metode qowa’id dan terjemah kita dapat menyimpulkan dan mengerti bahwaada beberapa ciri utama yang dimiliki metode ini, yaitu:
1.   Menitik beratkan keterampilan membaca, menulis, dan terjemah. Tetapi kurang memperhatikan keterampilan berbicara.
2.    Menggunakan bahasa ibu siswa sebagai bahasa pengatar. Dengan kata lain, metode ini menggunakan penerjemahan sebagai strategi utama dalam mengajar.
3.Guru sering kali memfokuskan analisis gramatikal/ tata bahasa pada kalimat-kalimat bahasa yang dipelajari.
B. Saran
Sebagaimana kita ketahui bahwasannya metode qawaid dan tarjamah ini mempunyai kelemahan, yaitu hanya membimbing peseserta didik untuk belajar bahasa secara pasif. Oleh sebab itu, agar proses belajar mengajar dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dalam menguasai 4 kompetensi Bahasa Arab, metode ini perlu penggabungan dengan metode lain. Hal ini dikarenkana dalam pembelajaran bahasa Arab para pendidik tidak harus berpegang teguh pada satu metode pembelajaran saja, namun bisa juga memilih metode apapun yang relevan dan sesuai dengan materi yang diajarkan.





DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah,AChaedar, Metodologipembelajaranbahasaarab, (Bandung: PT  Remaja
            Rosdakarya, 2014)
Musthafa, Bisridan Hamid, Abdul, Metodologi Dan StrategiPembelajaranBahasa Arab,   (Malang: UIN Maliki Press, 2012)
Rohman, Fathur, MetodologiPembelajaranBahasa Arab, (Malang: Madani, 2015)






[1]FathurRohman, MetodologiPembelajaranBahasa Arab,(malang: madani, 2015),hal. 137.
[2]Musthafa, bisri, danabdulhamid, metodedanstrtegipembelajaranbahasaarab, (Malang: UIN Maliki Press, 2012), 15
[3]FaturRohman, metodologi,139
[4]A ChaedarAlwasilah,Metodologipembelajaranbahasaarab, (Bandung: PT  RemajaRosdakarya, 2014) hal 172.

[5]Fathur Rohman,Metodologi,148
[6]Musthofa, Bisri, danAbdul  Hamid,metode,20.
[7]Fathur Rohman,Metodologi,148
[8]Fathur Rohman,Metodologi,150
[9]A ChaedarAlwasilah,Metodologipembelajaranbahasaarab, (Bandung: PT  RemajaRosdakarya, 2014) hal 172.
[10] Iamam Asrori dkk, Evaluasi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: MISYKAT,2012),hal,97-98. 
Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar